90 persen Batik Malaysia merupakan Batik Indonesia
Hal ini disampaikan oleh Nina Akbar Tandjung dalam Talkshow The Mysteri of Batik bersama Ketua Kelompok Pecinta Budaya Bangsa Ny Rien Bambang Guritno dan perwakilan perajin batik SOLO asal Lawean, Ny Sulaeman. Nina yang tampil cantik dengan busana batik Lasem kontemporer berlengan balon tersebut menjelaskan, batik sebagai identitas budaya bangsa kini telah banyak berkembang mulai corak tradisional hingga kontemporer.
“Namun setiap motif mengandung makna tertentu yang biasanya berupa doa dan harapan,” terang Nina di hadapan puluhan peserta yang didominasi wanita ini.
Misalnya
saja, batik SOLO pakem untuk pernikahan yang
sebagian besar menggunakan truntum kembang
tanjung.
Batik SOLO Sido Asih, ungkapnya, merupakan
pengharapan orang tua agar si anak penuh welas
asih. Demikian pula Batik SOLO Sido Mukti yang
melambangkan pengharapan agar pemakainya menjadi
orang yang terhormat, serta Batik SOLO Sido
Drajat untuk harapan memperoleh pangkat atau
kedudukan yang lebih baik.
“Ini sebabnya batik Kraton dengan pakem-pakem hanya digunakan pada kalangan tertentu. Yakni mereka yang mengerti makna dibaliknya,’’ terangnya. Batik yang bermakna filosofis, lanjutnya, diantaranya memang merupakan batik untuk acara pernikahan. Setiap prosesi membutuhkan batik dengan motif yang berbeda.
“Mungkin ibu-ibu ini bertanya, kenapa batik siraman menggunakan kain dengan motif cakar? Cakar disini dicontohkan dengan cakar ayam. Ayam merupakan makhluk yang mampu mencari makan sendiri. Makna batik ini, agar calon mempelai mampu menggunakan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan hidup mandiri,” tutur wanita yang juga mengeluarkan 11 seri buku mungil berjudul Pemikiran Kartini ini.
Dengan berkembangnya teknologi, batik kini lebih cepat prosesnya sehingga perkembangannya juga relatif pesat. Jika dulu satu kain batik selesai dalam waktu 60 hari, kini dengan teknologi printing, batik bisa diselesaikan 2 hingga 4 hari. Namun demikian, hal ini menimbulkan kecemasan dari perajin batik karena karyanya kalah dengan modernisasi.
“Kita tidak boleh menyerah. Bagi mereka yang mengerti, mereka akan paham mengapa harga batik bisa begitu tinggi. Dan memang, segmen pengguna batik ini merupakan kalangan khusus yang mengerti indahnya seni,” ungkap Nina menjawab pertanyaan peserta dari perajin batik SOLO yang gusar.
Sementara itu, menghadapi kecemasan hilangnya kebudayaan akibat klaim negara tetangga, ditanggapi ringan oleh Ny Sulaeman yang merupakan perajin batik SOLO dari Lawean. Dengan penuh semangat, wanita paruh baya ini mengungkapkan bahwa negara tetangga tidak mungkin mengklaim karena teknik dan jenis batiknya berbeda.
“Saya berani mengatakan, 90 persen batik Malaysia merupakan batik Indonesia. Dan mereka yang mengklaim, sama sekali tidak bisa membatik. Saya melihat langsung bahwa teknik yang mereka terapkan jauh berbeda. Sehingga saya pikir, aman bagi batik Indonesia meski mereka mengklaim hal yang tidak benar,” pungkasnya.
Dalam
pameran ini juga diperagakan cara membatik
lengkap dengan peralatan dan bahan membatik.
Tidak ketinggalan, ragam perhiasan mewah karya
Daphne Zepos yang terinspirasi kekayaan batik
Indonesia juga dipajang berdampingan dengan
karya batik se-nusantara.(fio/lim)
(Fionna Mediony, Malang
Post 16 April 2008