Hubungan antara batik dan
tarian tidak hanya karena batik harus digunakan oleh penari.
Keduanya adalah bagian dari seni kraton seperti juga gamelan
dan wayang purwa. Karenanya, filosofi dasar dari batik tulis
dan tarian keraton seperti Bedhaya sama: kontrol, etiket,
dan harmoni. Bahkan ada peribahasa Jawa yang kira-kira
berarti, "Siapa yang tak bisa menari, tak bisa membatik."
Batik-batik koleksi Iwan dalam
pameran ini sangat Solo. Ini dapat dilihat dari warna
dasarnya yang tidak putih murni seperti batik Yogyakarta,
tapi berwarna soga Jawa yang lebih muda dari guratan
motifnya.
Adanya perbedaan antara motif
batik Yogyakarta dan Surakarta ini terjadi karena memang
kedua pusat pemerintahan Jawa itu masing-masing memiliki
filosofi dasar yang berbeda. Keraton Surakarta memiliki
konsep adi peni atau keeleganan dan keindahan. Sedangkan
Yogyakarta menganut konsep adi luhung yang lebih megah,
agung, atau mulia.
Konsep dasar inilah yang
kemudian teraplikasi pada setiap kebudayaan, seni, dan mode
yang keluar dari kedua pusat itu. Motif Batik Surakarta
memakai warna yang lebih lembut. Sedangkan motif batik
Yogyakarta memiliki warna yang kontras antara dasar dan
motif. Garisnya dibuat cukup tegas. Hal yang sama terjadi
pada tarian. Penari Bedhaya Surakarta, seperti yang tampil
malam itu, lebih gemulai, bergerak dari kiri ke kanan
seperti batang padi yang tertiup angin senja. Sedangkan
penari Bedhaya Yogyakarta lebih maskulin, tegak, bergerak
naik turun seperti pokok pohon muda.
Salah satu koleksi tertua yang
ditampilkan dalam pameran adalah motif batik parang rusak
dari tahun 1928 dan juga parang klitik yang bertarikh 1940.
Dulunya, motif batik parang hanya dipakai oleh para
bangsawan. Tingkat kebangsawanan mereka dapat dilihat dari
besar kecilnya parang yang dipakai. Yang terbesar adalah
parang rusak barong yang hanya dipakai raja pada upacara
tertentu untuk menyambut kedatangan arwah para leluhur.