Aku pemilik nama asli Wahyu
Setyaning Budi ini, sebelum tahun lalu ia hanya memandang
batik sebagai busana untuk acara resmi. "Dulu aku cuma pakai
kain batik dan kebaya untuk ke acara resmi seperti resepsi
pernikahan," kata nyonya yang satu ini. "Tapi, mulai 2007,
aku juga suka pakai busana batik yang kasual. Misalnya, blus
dari batik belel aku pakai dengan celana jeans belel. Keren
lho," sambung pemilik tubuh mungil ini. Dalam koleksi busana
batik kasualnya ada pula, sebut saja, blus tanpa lengan dan
rok mini.
Ketika beribadah umrah pada
2007, Yuni juga membawa gamis yang terbuat dari batik. "Di
sana, di waktu aku sudah boleh pakai busana bebas, enggak
usah lagi pakai kostum seragam rombongan atau pakaian untuk
ibadah, aku pakai gamis batik. Ternyata, karena aku pakai
gamis batik, orang-orang, biarpun baru melihat aku dari
belakang, langsung tahu bahwa aku dari Indonesia," kenangnya.
Selain karena ia
perempuan Jawa,
kesukaannya yang
sangat kepada motif
batik parang-lah yang
membuatnya menjadi
penggemar busana
batik. "Aku suka
banget motif batik parang
apa saja. Dari situ
aku mulai melihat
motif-motif batik yang
lain," terang wanita
kelahiran Malang (Jawa
Timur), 3 Juni 1972
ini.
Lantaran cinta
kepada karya bangsa
sendiri itu, sengaja
atau tidak Yuni pun
menularkan kegemaran
barunya tersebut
kepada orang-orang
lain di sekitarnya.
"Orang-orang yang
bekerja untuk aku,
teman-temanku, kalau
aku pakai baju batik
yang 'lucu', mereka
bilang, 'Mau dong,
Pesan dong.' Ya
sudah, aku bikinkan
atau belikan untuk
mereka. Makanya,
kalau ke Yogyakarta,
aku nyempetin
belanja batik. Aku
jadi kayak pedagang
batik saja," tutur
Yuni, yang pernah
berbisnis butik
busana.
source: kompas.com