Sekitar empat bulan lalu, ketika Arini mulai
mencintai batik, ia terpaksa berburu di
Mangga Dua. "Sekarang koleksi di sini sudah
lengkap dan lucu-lucu," katanya. Apalagi
Jogja Mandiri, sebuah kelompok perajin
barang-barang khas Yogya, menyelenggarakan
pameran dari mal ke mal hingga 16 November.
Melalui pameran bertajuk "De Jogja Craft
Expo" ini mereka hendak memperkenalkan
kerajinan selama setahun ini di Jakarta.
Sebelum sampai ke Mal Artha Gading, selama
dua pekan pameran digelar di Mal Kelapa
Gading 3.
Menurut Dheway, seorang penjual batik,
biasanya dalam sehari ia bisa menjual sampai
tujuh buah selama berpameran di kawasan
Kelapa Gading. "Itu tergantung tempatnya
juga," ujarnya. Dheway paling senang jika
mendapat tempat di ground floor
lantaran langsung dilihat pengunjung. "Kalau
dapatnya lantai kesekian, sedikit yang
beli," ujar Santi, penjual batik Sida Mukti.
Pengalaman keduanya, tak semua pelanggan
memburu batik masa kini yang unik dan lucu.
"Ada juga lo yang sengaja mencari batik
motif lama, alasannya biar berkesan klasik
dan mahal," kata Santi. Untuk urusan ini,
biasanya pembeli sudah memahami benar corak,
nilai, dan daerah asal Batik itu dihasilkan.
"Mereka nggak bakal mau ditawari
batik produk kolosal," ujarnya