|
|
PENGRAJIN BATIK TAK PERLU
RESAH
Logo tersebut telah diluncurkan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia, Andi Mattalatta pada acara Pembukaan Gelar
Batik Nusantara oleh yang diselenggarakan Yayasan Batik Indonesia di
Jakarta Convention Centre, Rabu (19/9).
Dalam acara yang dibuka oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono tersebut, Andi
menyebutkan bahwa pemberian tanda batik dimaksudkan untuk melestarikan
Batik Indonesia dan melindunginya secara hukum dari pemanfaatan oleh
pihak lain di dalam maupun di luar negeri. Disamping itu juga untuk
memperkenalkan Batik Indonesia di dunia internasional serta untuk
meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap Batik Indonesia.
Ani Yudhoyono meminta logo itu bisa dipasang diproduksi Batik
Indonesia sebagai ciri khas. “Saya menganjurkan kepada perajin,
hendaknya logo ini dapat dibordir langsung atau dicap langsung pada
kainnya agar tidak mudah diganti dengan logo lain”, ujar Ani. “Ini
tujuannya agar perajin batik Indonesia tidak dirugikan atau dicurangi
terus menerus oleh pihak-pihak tertentu”, imbuhnya.
Tanda batik ini digagas bersama antara Departemen Hukum dan HAM,
Departemen Perindustrian, Yayasan Batik Indonesia, para pengusaha dan
seniman batik. Langkah ini merupakan upaya untuk melindungi batik
Indonesia di tengah pasar global, antara lain dari Negara tetangga
Malaysia yang gencar mempromosikan batik sebagai warisan budaya negara
itu.
Walaupun batik sebagai teknik membentuk
ragam hias dengan menggunakan perintang warga dari ragam bukan asli
Indonesia, Indonesia adalah negara yang paling maju mengembangkannya.
Tanda batik akan diberikan untuk batik tulis, batik cap dan kombinasi
keduanya. Sertifikat tanda batik akan dikeluarkan Balai Besar Kerajinan
dan Batik (BBKB) di Yogyakarta setelah melalui pengujian.
Seperti diketahui, sejumlah negara telah melakukan paten atas produk
asli Indonesia. Malaysia dilaporkan mematenkan motif batik dan mengklaim
batik sebagai produk asli kepunyaan mereka. Jepang mematenkan tempe,
sementara Singapura mematenkan produk anyaman rotan. Padahal, menurut
Menristek Kusmayanto Kadiman, produk-produk tersebut merupakan
traditional atau indigenous knowledge yang diwariskan secara
turun-temurun. ''Sekarang, tiba-tiba batik dipatenkan orang lain. Dan
kalau mau bikin batik kita harus minta paten dulu dari negara lain. Ini
kan lucu,'' cetusnya.
Anggapan bahwa baik merupakan busana kaum beumur, lanjut Ani, sekarang
sudah bergeser. Sekarang, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang
tua juga menggunakan batik.
Kegunaannyapun beragam. Selain untuk acara-acara tertentu, baik juga
digunakan sebagai busana sehari-hari, dekorasi rumah, dekorasi kantor,
alas kaki dan tas. “Gali motif yang lama dan ciptakan motif-motif yang
baru. Pilihlah bahan baku yang berkualitas sampai pada pewarnaannya”,
lanjut ibu dua putra ini.
Sekilas mengenai cerita batik, bahwa sejak abad ke-15 seni batik telah
mulai maju dan berkembang. Ketika itu seni batik mendapat pengaruh dari
Agama Budha, Hindu, dan Islam terhadap corak batik yang ada. Pada Jaman
ini batik hanya dibuat di dalam lingkungan Kraton dan digemari oleh
puteri Kraton.
Batik di Daerah Istimewa Yogyakarta
saat ini berkembang dengan pesat. Tidak kurang dari 400 motif batik khas
Yogyakarta yang terdiri dari motif batik klasik maupun motif batik
modern berada di Yogyakarta sehingga Yogya dikenal dengan sebutan Kota
Batik.
Beberapa contoh motif batik klasik Yogyakarta antara lain: Parang,
Geometri, Banji, Tumbuhan Menjalar, Motif tumbuhan Air, Bunga, Satwa
dalam kehidupan dan lain-lain. Penggunaan batik dewasa ini bukan hanya
sebagai kain tetapi juga sebagai pakaian jadi, bed cover, sarung bantal
dan lain-lain.
Industri Batik terdapat di seluruh Wilayah DIY. Di kota Yogyakarta,
industri batik banyak berada di Tirtodipuran, Panembahan, dan
Prawirotaman.
Sedang di Kab. Bantul berada di Desa Wijirejo dan Wukirsari maupun Desa
Murtigading. Di Kab Kulon Progo, industri batik ada di desa Hargomulyo,
Desa Kulur, dan Sidorejo. Sedang di Gunung Kidul ada di Desa Nitikan dan
Ngalang.
Salah satu kota yang juga mendapat sebutan Kota Batik adalah Pekalongan.
Sampai-sampai di kota ini berdiri Museum Batik Indonesia yang terletak
di Jalan Jatayu Kota Pekalongan, atau tepatnya menempati bekas Gedung
Balaikota lama. Museum tersebut diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan memiliki berbagai ragam koleksi batik, mulai batik antik
yang berusia ratusan tahun, hingga perpustakaan dan peta batik raksasa
serta berbagai pernak pernik yang terkait dengan masalah batik.
BATIK yang merupakan karya adiluhung bangsa Indonesia diakui oleh United
Nation Education Social Culture Organization (UNESCO), salah satu badan
PBB yang bergerak dibidang pendidikan dan sosial budaya, sebagai
"Indonesian Heritage" atau warisan budaya Indonesia. Keberadaan batik
hingga kini tidak terlepas dari dinamika yang senantiasa terjadi pada
berbagai aspek, baik aspek teknis, estetis, normatif, ikonografis maupun
aspek fungsional dan ekonomis.
Di dalam museum itu kita bisa melihat secara gamblang berbagai ragam
batik. Keberadaan jenis aneka batik tidak terlepas dari partisipasi para
kolektor dan kurator batik yang menyumbangkan `simpanannya' secara suka
rela. Ini tidak hanya dilakukan oleh kolektor tokoh-tokoh batik
Pekalongan saja tetapi juga disumbang oleh kolektor batik bertaraf
nasional seperti Minarsih Soedarpo, Ghea Panggabean, Graziela S.
Rapjanidewi, Nian Djoemena, Syarifah Nawawi, Unzelda A Learnona. R.A
Soeiatoen Darmais, Roos Roesmali, Tumbu Ramelan, Maria Moerad maupun
Yayasan Batik Indonesia dan lain sebagainya.
Tidak mengherankan jika ruang pamer cukup menarik dengan adanya koleksi
batik-batik kuno yang mempunyai nilai sejarah. Disamping berbagai jenis
batik dari berbagai daerah di Nusantara seperti jenis Cirebon, Lasem,
Yogya, Solo, Pekalongan, Madura maupun batik luar Jawa lainya dengan
corak dan ciri khas lainnya. Tak kalah menariknya Kreasi batiK yang
dihasilkan warga Pekalongan yang penuh kreatifitas corak yang dipajang
di ruang pamer museum. Disamping adanya peta batik raksasa yang dibuat
oleh Rusdiyanto, SH asal Kradenan yang menggunakan 59 corak sebagaimana
ciri khas batik daerah.
Bahkan peta batik ini dicatat MURI karena
memecahkan rekor di Indonesia. Keberadaan Museum batik tidak hanya
menampilkan display batik saja, tetapi juga dipajang alat-alat peraga
pembuat batik baik canting, cap maupun tempat nglorot batik dan
perlengkapannya hingga kompor dan wajan tempat malam sebagai bahan
membatik. Disisi lain juga dilengkapi ruang perpustakaan yang berisi
ratusan buku mengenai perbatikan baik cetakan dalam maupun luar negeri.
sehingga pengunjung bisa dengan mudah melihat sejarah perkembangan batik
secara jelas. Bahkan kedepan Museum ini akan dilengkapi dengan sistem IT
guna mendukung para pengusaha batik dalam proses ekspor dan impor serta
menghakpatenkan.
SOURCE:
http://majalah.depkumham.go.id/node/125

|

|

|

|
|
Kode BW42 |
Kode BW43 |
Kode
BW44 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW45 |
Kode BW46 |
Kode
BW47 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW25 |
Kode BW26 |
Kode
BW27 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW28 |
Kode BW29 |
Kode
BW30 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW31 |
Kode BW32 |
Kode
BW33 |
| |
|
|
| |
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW34 |
Kode BW35 |
Kode
BW36 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW37 |
Kode BW38 |
Kode
BW38 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
|

|

|

|
|
Kode BW39 |
Kode BW40 |
Kode
BW41 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
|
|