|
Pusatnya BERBAGAI MACAM BATIK SOLO
|
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
PRODUK KAMI:
call/sms us at : (62 21) 536 522 78 or (62) 0813 146 00 283 or (62-21) 95 1000 50
email: sales@batiklaksmi.com showroom: 1. Raden Mas Said, SOLO
2. Kemanggisan, Jak-Bar
del.icio.us
|
Sejumlah Tantangan Hadang Pengembangan Batik
JAKARTA --
Menteri Perindustrian (Menperind)
menilai sejumlah tantangan masih
menghadang perkembangan batik di
Indonesia sebagai warisan budaya yang
memiliki nilai ekonomi untuk membantu
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, kata Menperind Fahmi Idris, di Jakarta, Senin, perlu langkah cepat mengatasi berbagai masalah tersebut guna mengoptimalkan manfaat dari tren permintaan batik yang sedang meningkat. "Produk batik Indonesia telah mampu menembus pasar ekspor dan saat ini di dalam negeri (batik) sudah mulai digemari kalangan anak muda yang sebelumnya menganggap batik hanya digunakan orang tua," katanya pada pembukaan Pameran Batik yang berlangsung pada 8-12 September 2008, di Depperin. Dengan demikian, kata Fahmi pada sambutan tertulis yang dibacakan Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Depperin Fauzi Aziz, batik sebagai warisan budaya Indonesia telah mampu memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat, sehingga batik perlu dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan. Namun, ia juga menyadari bahwa perkembangan batik di dalam negeri yang mulai menggeliat saat ini memiliki sejumlah masalah yang akan menghadang perkembangannya. Fahmi menyebut persoalan dan tantangan tersebut, antara lain generasi pembatik usia muda masih sangat terbatas dan para perajinnya masih banyak yang belum melakukan perbaikan sistem dan teknik produksi yang baik. Padahal daya saing batik di pasar domestik maupun internasional juga semakin ketat."Meskipun batik kita klaim sebagai produk asli Indonesia, saat ini sudah banyak negara memproduksi batik yang dapat menjadi saingan produksi batik Indonesia, misalnya Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan lain-lain," katanya. Minim akses informasi Persoalan lain yang menjadi tantangan perkembangan batik ke depan adalah masih minimnya akses informasi dan akses pasar. Ia juga mengkritisi sebagian besar perajin batik yang masih menggunakan zat warna kimia dan penanganan limbahnya belum dilakukan dengan benar sehingga mencemari lingkungan. Belum lagi, lanjut dia, ketersediaan kain sutera sebagai bahan baku batik masih terbatas. Kendati demikian, Fahmi menegaskan batik sebagai warisan budaya harus dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan, sehingga butuh optimalisasi perlindungan hak kekayaan intelektual. Terkait dengan hal itu Depperin bekerjasama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) mengembangkan logo dan tanda "Batik Indonesia." Pengurus YBI, Ika Bien Subiantoro Wahyudi, mengatakan pemberian tanda "Batik Indonesia" itu masih bersifat sukarela. Tanda itu, kata dia, selain untuk melindungi HaKI, juga memberi kepastian hukum kepada produsen dan konsumen mengenai keaslian batik yang diperdagangkan, apakah batik cap atau tulis. Tercatat, baru dua perajin batik yang mendapatkan tanda "Batik Indonesia". Berdasarkan data Depperin, pada saat ini jumlah industri batik di Indonesia mencapai 48.300 unit usaha yang menyerap sekitar 792.300 orang, dengan nilai produksi sekitar Rp2,9 triliun. Saat ini, ada delapan propinsi penghasil utama batik yaitu Jambi, Bengkulu, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali. Selain itu ada juga tumbuh kegiatan usaha perbatikan di Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua, dengan motif yang disesuaikan dengan alam dan lingkungan daerah masing-masing. (ant/ah)
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
copyright 2008@BATIKLAKSMI
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||