Pusatnya Berbagai Macam Batik. Batik Pria, Batik Wanita, Batik Anak2 dan Aksesoris Batik Lainnya. Kualitas Asli SOLO
 

BATIKLAKSMI.COM

Pusatnya BERBAGAI MACAM BATIK SOLO

 

 

 

 

 

PRODUK KAMI:

 

-

Bantal Batik

-

Kaos Batik

-

Kemeja batik

-

Blus Batik

-

Daster Batik

-

Rok Batik

-

Sandal Batik

-

Celana Batik

-

Jilbab Batik

-

Mukena Batik

-

Sajadah Batik

-

Sprei Batik

-

Bahan Batik

-

Sutera Batik

-

Interior Batik

call/sms us at :       

(62 21) 536 522 78

          or                      

(62) 0813 146 00 283

              or

(62-21) 95 1000 50

 

email:        sales@batiklaksmi.com

showroom:

1. Raden Mas Said, SOLO

                                             

2. Kemanggisan, Jak-Bar

 

 

del.icio.us
Furl
Google
ma.gnolia
Netscape
Netvouz
RawSugar
reddit
Shadows
Simpy
Sphinn
StumbleUpon
Yahoo MyWeb

      

Batik dan Perpaduan Budaya

BATIK memang tidak hanya ada di Indonesia. Banyak negara yang memiliki batik dengan ciri khasnya sendiri. Namun, keadaan itu tidak mematahkan semangat desainer Indonesia. Keragaman batik justru menantang mereka untuk menampilkan ciri khas Indonesia, meski kemudian jalannya melalui perpaduan budaya.

Di antaranya adalah desainer Chama Sjahrir. Di hadapan ribuan penduduk Bangkok, Chama mempertontonkan sederetan koleksi batik olahannya dalam fashion show yang digelar di Public Ground Bangkok, Thailand, 8 April.

Di acara yang merupakan bagian peringatan ulang tahun Rattanakosin (kota tua Bangkok) ke-222 ini, Chama memilih tema The Real Art of Fashion. Tema itu dipilih karena Chama merasa busana karyanya bukan hanya sesuatu yang dikenakan seorang wanita atau pria untuk menutupi tubuh saja, melainkan juga sebuah karya seni. ”Busana saya bukan sebatas fesyen, melainkan masing-masing memiliki nilai seni,” ujar perancang yang ikut mendesain pakaian batik untuk Presiden Megawati dan suami.

Pernyataannya tidak berlebihan, mengingat setiap kain yang dikenakan para peragawati di pagelaran itu dilukis tangan Chama sendiri. Tidak ada satu pun motif batik Chama yang identik satu dengan yang lain. Soal bahan yang digunakan, kali ini Chama memilih Silk Thailand.

Sejak 1987 perancang ini memang sudah banyak menggeluti dan menuangkan motif batik di atas kain silk. Pendiri butik Tres Belle-House of Fashion ini mulai membuat batik sendiri sejak 2002. Di Bangkok, Chama memperlihatkan kepiawaiannya memainkan kuas di atas bahan sutra lewat 56 busana rancangan terbarunya. Semua itu ditampilkan oleh enam model Indonesia dan lima model Bangkok.

Berbeda dengan pergelaran sebelumnya, kali ini Chama memilih untuk mengolah batik di atas Thai silk. Selain karena mutunya, dia tertarik mencoba membaurkan dua kebudayaan dari negara berbeda dalam suatu karya yang indah.

Meski bahan sutra khas Thailand memiliki kualitas lebih bagus dari sutra biasa, bukan berarti mengolahnya lebih mudah. Bahkan, menurut Chama sebaliknya. Karena silk Thailand menyerap warna lebih banyak, maka pembuatannya menjadi lebih sulit, membutuhkan waktu dan ketelitian lebih besar.

Semua hasil kerja keras itu tampak jelas dalam rentetan busana bergaya modern yang disajikannya. Memasang target pasar wanita dewasa, Chama menawarkan busana dengan konsep rancangan kasual, semi formal dan formal.

Untuk pakaian kasual, Chama menampilkan atasan berupa kebaya modern seperti kerah tinggi dengan selendang yang dipasangkan dengan bawahan dinamis, celana 7/8 dan rok pendek berwarna serasi. Selain bentuk kebaya, Chama juga menawarkan atasan blazer dengan aksen batik yang juga dipadukan dengan celana.

Sedangkan untuk acara semi formal dan formal, ditampilkan baju terusan dan baju kurung dengan model kerah cina yang modern juga busana yang dibuat dari bahan batik yang tidak diolah melainkan ditampilkan menggunakan tehnik ikat.

Bukan hanya untuk wanita, Chama juga menampilkan beberapa kemeja pria, mulai dari lengan panjang hingga pendek. Semua tampil dengan batik yang ringan, sehingga bisa dikenakan untuk menghadiri acara semi formal.

Hampir seluruh busana batik yang ditawarkan didominasi dengan motif kupu-kupu dan bunga yang sudah menjadi andalannya. Selain itu, yang membuat koleksi Chama semakin unik adalah batik berwarna cerah seperti merah muda, ungu, biru dan lainnya. Ini semua dilakukan Chama sebagai upaya untuk membangun image baru dari batik yang kerap kali diasosiasikan dengan warna cokelat.

Selain batik, di sesi kedua Chama menyisipkan koleksinya yang menggunakan sutera Bugis. Kekreatifannya mengolah bahan ini dihadirkan lewat busana-busana modern seperti rok tube mini model kemben dari sutra bugis warna biru cerah. Selain itu, keindahan bahan ini juga tampak dalam sarung yang dipadukan dengan kebaya modern dengan bentuk kerah victorian dan model bertumpuk.

Sepertinya, usaha Chama memperkenalkan keindahan kain Indonesia dalam bentuk perpaduan budaya ini cukup berhasil. Gubernur Bangkok, Samak Sundaravej yang ikut menyaksikan pergelaran memberikan respons positif dan tidak habisnya memuji kemeja pemberian sang perancang. ”Ini merupakan revolusi baru dalam dunia batik. Saya sangat kagum dengan kemampuan Chama mengolah Thai Silk menjadi sebuah kreasi yang indah. Saya juga bangga seorang desainer dari Indonesia mau memberdayakan bahan khas Thailand dengan kebudayaan mereka,” ujarnya.

Bukan hanya gubernur, warga Bangkok yang turut menyaksikan pergelaran ikut memuji. Seorang pengamat fesyen, Nattapol Jurang Kool mengaku sangat kagum dengan serentetan busana yang disaksikannya. ”Bajunya sangat cantik. Sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau Indonesia memiliki keindahan seperti ini,” ujarnya.

Koleksi Chama juga mendapat sambutan baik dari Erna Gunawan, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok. Erna mengaku terkesan dan kagum akan semangat Chama mengenalkan kekayaan Tanah Air ke seluruh penjuru dunia. ”Jarang ada desainer Indonesia yang melakukan hal seperti ini, menggabungkan pakaian tradisional Tanah Air seperti batik dengan bahan tradisional negara tetangga seperti Thai Silk. Saya melihat Chama sebagai duta kebudayaan.”

Bagaimana dengan Chama sendiri? Walaupun puas akan hasil kerja kerasnya, Chama mengaku tidak akan berhenti berkarya. Sesudah pemilihan presiden, dia akan kembali menggelar show, kali ini di Bali dan Jakarta. ”Saya sudah beberapa kali menggelar show di luar negeri dan ternyata batik saya dapat diterima. Sekarang ini, saya akan berkonsentrasi untuk pasar dalam negeri dulu,” ujar perancang yang memiliki gerai di Pasaraya Grande Lantai empat dan Jl Gudang Peluru, Tebet ini.

Yang pasti, Chama dengan Tres Belle menawarkan cara pandang baru akan batik sebagai pakaian sehari-hari untuk segala acara. Di tangannya, batik bukan sekadar busana tradisional, namun merupakan busana yang bisa dipakai ke mana dan oleh siapa saja.

Sumber : (MI/M-2) Media Indonesia

 

 

copyright 2008@BATIKLAKSMI