| BATIKLAKSMI.COM Pusatnya BERBAGAI MACAM BATIK SOLO
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
PRODUK KAMI:
call/sms us at : (62 21) 536 522 78 or (62) 0813 146 00 283 or (62-21) 95 1000 50
email: sales@batiklaksmi.com showroom: 1. Raden Mas Said, SOLO
2. Kemanggisan, Jak-Bar
del.icio.us
|
Batik China Berpotensi Gusur Batik Lokal
Membanjirnya tekstil bermotif batik asal China di pasaran berpotensi menggusur batik lokal dan mematikan usaha perajin batik. Untuk itu, perlu adanya perlindungan terhadap batik lokal sebagai budaya tradisional. "Padahal, tekstil bermotif batik asal China ini bukanlah batik. Namun, justru produk yang berusaha meniru budaya tradisional asli Indonesia," ujar Ketua Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Diah Wijaya Dewi, ketika dihubungi, Selasa (16/9). Dewi mencontohkan, dampak membanjirnya batik asal China ini sudah dirasakan pengusaha batik cap yang biasa memasukkan produknya ke pasar tradisional. "Salah satu pengusaha batik cap asal Pekalongan sudah ditolak produknya untuk masuk ke Pasar Johar karena para pedagang sudah memasok batik asal China ini," ujar perempuan yang kerap dipanggil Dewi Tunjung ini. Kondisi ini, lanjut Dewi, disebabkan batik asal China ini harganya lebih murah dibandingkan batik lokal, sehingga masyarakat beralih mengonsumsi produk China tersebut. Di Pasar Johar, Kota Semarang, batik asal China ini sudah dipasok lebih kurang lima bulan terakhir. Para pedagang mengaku lebih senang menjual batik ini karena lebih cepat laku. Oleh karena itu, menurut Dewi, pemerintah mestinya melindungi budaya lokal sebelum produk asal China ini mematikan pengusaha batik lokal. "Perlu ada regulasi dari pemerintah yang membatasi atau bahkan melarang tekstil impor asal China ini karena mengancam budaya lokal sendiri," katanya. Pengurus Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Widya Wijayanti menambahkan, membanjirnya tekstil bermotif batik asal China ini mungkin tidak memengaruhi pengusaha batik besar yang telah memiliki pasar namun berdampak besar pada perajin kecil yang belum memiliki akses pasar dan tidak bermodal besar. Selain itu, Dewi Tunjung juga mengimbau pada masyarakat kepada masyarakat untuk tidak sekadar memakai batik namun juga memahami esensi dari batik itu sendiri sebagai budaya asli Indonesia. Pakar sejarah dan pengamat batik dari Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro, Dewi Yuliati mengatakan, tekstil bermotif batik asal China ini bukanlah batik seperti yang dikembangkan di Indonesia. "Pembuatan batik dilakukan melalui proses dari pelukisan hingga pencelupan, sedangkan China tidak memiliki budaya membatik seperti ini," source: KOMPAS
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
copyright 2008@BATIKLAKSMI
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||