Motif batik alam seperti bentuk daun, bunga, burung dan buket, lalaran, mix truntum, naga dengan tumpal panjang, mega mendungan, tiga motif susun truntum, kawungan sidoasih, kotak buketan, taman buangan dan kupu-kupu, parang modang gemukiran, sekar jagad, naga dan lain-lain sengaja ditonjolkan Elistiana untuk mengarahkan desain batik tersebut pada klasik-modern. “Agar batik yang dikenakan bapak-bapak atau ibu-ibu tidak terkesan sangat klasik atau pakem,” tuturnya. Dengan sentuhan ragam motif tersebut diharapkan pembawaan batik lebih hidup dan segar, bahkan menggambarkan kepedulian kita pada alam, atau mengkomunikasikan bagaimana keindahan alam bisa memberikan kesegaran dalam berpenampilan.
Namun demikian, lanjutnya selama penggunaan batik motif tidak dipadu padan dengan aplikasi bordir bunga dan sebagian payet akan memberikan kesan kaku. Oleh karena itu untuk bisa menampilkan keluwesan pada si pemakai, Elistian memberi aplikasi bordir dan payet pada kebaya setelan batik. Begitu juga dengan selendangnya.
Sedangkan potongan desain lebih simetris dan asimetris sebab disesuaikan dengan karakter usia si pemakai. Untuk kebayanya sendiri memang dibuat sesimple mungkin untuk memebrikan kesan, sederhana tetapi terlihat ekslusif. “Membentuk simple menjadi terlihat wah, itu gampang-gampang susah, sebab kebaya modern biasanya penuh aplikasi dan bordir. Tetapi untuk ini hanya sebagian saja, tidak terlalu full aplication, karena memang fungsinya hanya untuk mempermanis dan pelengkap agar potongannya tidak kaku, sebab saya lebih menonjolkan pada batik motif tersebut,” kata Elistiana.
Balance pada setiap aplikasi dan padu-padan akan membuat busana baik itu pria maupun wanita terlihat lebih rapi sesuai dengan fungsinya, akan dipakai ke mana busana tersebut. Tetapi keindahan atau eksotika yang dilahirkan melalui motif jangan sampai kalah dengan aplikasinya karena unsur batik akan ‘tenggelam’.
Elistiana juga mengatakan pada konsep Klasik-Modern ini, sebenarnya ia ingin bercerita bahwa batik tanpa keluar dari pakemnya bisa didesain dengan gaya apapun, baik itu kreasi dengan aplikasi maupun kreasi pada payet, kancing, potongan bahan. Bahkan busana kan tampak lebih elegan, mewah, ekskulisif bila kita bisa memilih motif sebagai carakaternya desain. “Sebab motif bisa bercerita apa saja mengenai gaya si pemakai, begitu juga dengan permainan warna, jika memang berani desainer bisa menggunakan warna kontras pada kebaya yang kemudian dipasangkan dengan batik itu,” kata Elsitiana.
Untuk bahan sendiri Elistiana banyak menggunakan sutera ATBM Jepara, serat nanas, katun tulis, thay silk Jogjaan, serta nanas salur, serat pisang. Bahan-bahan tersebut mudah didapat dan tidak sulit dalam pengerjaannya. Sedangkan kualitas seratnya cukup bagus untuk gaya apapun atau lebih fleksible.
Sumber : (Fora)-KR


































